PERINGATAN HARI DAMAI ACEH 2026 DI SMA NEGERI 1 PAYA BAKONG DIWARNAI DENGAN HISTORY TELLING

Barsela24news.com

Barsela24news.com | Aceh Utara, 15 Agustus 2026 I Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di SMA Negeri 1 Paya Bakong, Aceh Utara, berlangsung khidmat dan penuh refleksi. Bertepatan dengan momentum dua dekade lebih perdamaian Aceh yang ditandai melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005, warga sekolah mengenang perjalanan panjang Aceh melalui pembacaan Yasin, zikir, doa bersama untuk para korban konflik, serta kegiatan history telling yang menghadirkan pengalaman nyata guru yang pernah merasakan getirnya masa konflik.

Sejarah yang dipaparkan sebagai bahan refleksi agar generasi muda memahami betapa mahalnya harga sebuah perdamaian dan betapa pentingnya menjaga Aceh agar tetap damai.

Bagi masyarakat Kecamatan Paya Bakong dan sekitarnya, perdamaian bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah. Damai merupakan perubahan nyata yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama setelah masyarakat sebelumnya hidup dalam bayang-bayang konflik bersenjata yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Salah seorang guru SMA Negeri 1 Paya Bakong, Jamaliah, membagikan kisah masa remajanya ketika masih bersekolah di tingkat SMA di Kecamatan Matangkuli.

Saat itu, setiap pagi Jamaliah harus mengayuh sepeda sejak ufuk fajar mulai menyingsing. Jarak sekitar 12 kilometer harus ditempuh untuk menuju sekolah. Namun perjalanan menuju sekolah tidak selalu berlangsung normal.

Tidak jarang perjalanan terhenti karena terjadi kontak senjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI. Jamaliah harus menunggu situasi aman sebelum melanjutkan perjalanan. Kondisi tersebut membuatnya kerap terlambat tiba di sekolah.

Yang lebih membekas bukan sekadar keterlambatan ke sekolah. Ia menyaksikan langsung peristiwa kekerasan yang terjadi tidak jauh dari tempatnya berada. Pengalaman tersebut meninggalkan trauma yang tidak mudah dilupakan.

Keluarganya pun merasakan langsung dampak konflik. Setelah situasi berangsur damai, rumah mereka harus direhabilitasi karena terdapat banyak lubang bekas peluru. Lebih tragis lagi, beberapa anggota keluarganya menjadi korban dan meninggal dunia dalam konflik.

Namun perjalanan hidup Jamaliah kemudian menunjukkan bagaimana perdamaian membuka kembali ruang harapan.

Ia bersyukur dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hingga akhirnya menjadi seorang guru. Kini ia berdiri di ruang kelas SMA Negeri 1 Paya Bakong, mendampingi generasi yang tumbuh dalam suasana Aceh yang jauh lebih aman.

Baginya, pendidikan merupakan salah satu wajah nyata dari perdamaian.

Di masa konflik, sekolah dan perjalanan menuju sekolah bukanlah sesuatu yang sederhana. Hari ini, anak-anak dapat berangkat ke sekolah dengan lebih tenang, belajar tanpa dihantui suara tembakan dan pengungsian, serta memupuk cita-cita tanpa rasa takut.

Jamaliah mengenang bagaimana pada masa konflik, masyarakat sering kali harus mengungsi dan menghadapi keterbatasan bahan makanan. Dalam kondisi yang sangat sulit, satu butir telur rebus bahkan harus dibelah menjadi enam bagian untuk dimakan bersama seluruh anggota keluarga.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian juga berarti tersedianya ruang bagi masyarakat untuk bekerja, berdagang, membangun usaha, mengelola kehidupan keluarga, dan merencanakan masa depan.

Kisah reflektif lainnya datang dari seorang siswi, Nazwa. Ia menulis pengalaman masa konflik dari perspektif ibunya.

Dalam tulisannya, Nazwa menggambarkan bagaimana keluarganya kehilangan sosok ayah yang menjadi korban konflik dan meninggal dunia. Kehilangan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Namun Nazwa memilih melihat masa depan dengan penuh harapan. Baginya, kedamaian yang telah berlangsung selama dua puluh satu tahun memberikan kesempatan kepada generasinya untuk memiliki cita-cita dan menata kehidupan dengan lebih baik.

Ia ingin suatu hari nanti memperoleh pekerjaan yang baik dan membahagiakan orang tuanya.

Kisah Nazwa menjadi simbol bahwa generasi yang lahir dan tumbuh dalam suasana damai tidak harus mewarisi kebencian dari masa lalu. Mereka justru dapat mewarisi harapan.

Plt. Kepala SMA Negeri 1 Paya Bakong, Khairuddin, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di sekolahnya sengaja diarahkan pada kegiatan reflektif literasi.

Menurutnya, sejarah perlu diceritakan agar generasi muda tidak kehilangan ingatan terhadap perjalanan Aceh, tetapi sejarah tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk kembali membuka luka.

“Ini bukan untuk mengungkit luka lama, tetapi untuk mengabadikan sejarah, mengambil 'ibrah, dan kemudian berangkat membangun asa,” ujarnya.

Ia menambahkan, perdamaian harus disyukuri sebagai sebuah anugerah Allah SWT sekaligus amanah yang harus dirawat bersama.

“Bersyukur kepada Allah SWT kita wujudkan melalui karya cinta kepada bangsa, pengabdian kepada masyarakat, serta merawat dan menjaga perdamaian Aceh agar apa yang kita lakukan menjadi pengabdian yang bernilai mulia,” ungkapnya.

Menurut Khairuddin, history telling memberikan ruang kepada guru dan peserta didik untuk melihat sejarah bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi sebagai pengalaman kemanusiaan yang memiliki pelajaran penting bagi kehidupan masa kini.

Dari cerita para penyintas, peserta didik dapat memahami bahwa sekolah yang aman, perjalanan menuju sekolah tanpa rasa takut, kesempatan belajar, aktivitas ekonomi yang normal, serta kebebasan untuk menyusun cita-cita merupakan bagian dari buah perdamaian yang patut disyukuri.

Peringatan Hari Damai Aceh di SMA Negeri 1 Paya Bakong akhirnya tidak berhenti pada seremonial. Yasin, zikir, doa, kisah Jamaliah, tulisan Nazwa, dan refleksi warga sekolah menyatu menjadi pesan bahwa perdamaian memiliki wajah manusia.

Ada wajah orang tua yang pernah kehilangan anggota keluarga. Ada wajah anak yang tumbuh tanpa ayah. Ada wajah guru yang pernah mengayuh sepeda menembus ketidakpastian menuju sekolah. Dan ada wajah generasi muda yang hari ini dapat belajar, bermimpi, dan menatap masa depan tanpa harus mengalami apa yang pernah dialami generasi sebelumnya.

Dua puluh satu tahun perdamaian Aceh menjadi momentum untuk mengingat bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang otomatis bertahan. Ia harus dirawat melalui pendidikan, literasi sejarah, toleransi, persaudaraan, dan komitmen bersama.

Dari Paya Bakong, pesan itu kembali digaungkan: Jangan wariskan lukanya. Wariskan pelajarannya.

Karena Aceh yang damai memberi generasi hari ini kesempatan untuk memupuk asa, dan tugas generasi hari ini adalah memastikan asa itu tetap tumbuh bagi generasi yang akan datang. (alman)