LIMA TOKOH PENGGERAK PEMBANGUNAN JEMBATAN MUJUR: SWADAYA WARGA PULIHKAN AKSES YANG TERPUTUS

Barsela24news.com

Barsela24news.com | Lombok Tengah NTB, 25 September 2026 — Semangat gotong royong masyarakat Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, kembali terlihat dalam upaya membangun akses penghubung antardusun yang selama lebih dari dua tahun terputus.

Pembangunan Jembatan Orok-Orok–Kudung Are–Tembuku digerakkan oleh lima tokoh masyarakat, yakni Ir. H. Abdul Hakim, MM., H. Isro, SH., Murdan, H. Nurman, dan Junaidi.

Kelima tokoh tersebut menjadi inisiator sekaligus penggerak pembangunan jembatan yang menghubungkan Dusun Orok-Orok, Dusun Kudung Are, dan Dusun Tembuku, Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur.

Jembatan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat karena tidak hanya menjadi akses penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi salah satu jalur alternatif yang dapat digunakan masyarakat untuk menghindari kepadatan lalu lintas.

Selama lebih dari dua tahun, kondisi jembatan yang roboh membuat mobilitas masyarakat terganggu. Warga harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh sehingga aktivitas ekonomi, sosial, maupun transportasi ikut terdampak.

Kondisi tersebut kemudian mendorong munculnya inisiatif warga untuk mengambil langkah nyata.

Tidak harus menunggu pemerintah, masyarakat memilih bergerak dengan kemampuan yang ada.

Pembangunan dilakukan secara swadaya dengan mengandalkan sumbangan warga, sukarelawan, material yang tersedia, serta peralatan seadanya. Masyarakat juga terlibat langsung dalam proses pengerjaan secara bergotong royong.

“Jangan hanya menunggu bantuan pemerintah. Kalau bisa kita kerjakan bersama dengan kemampuan yang ada, demi kepentingan dan kenyamanan masyarakat,” demikian semangat yang disampaikan salah satu tokoh penggerak.

Bagi masyarakat Mujur, pembangunan jembatan ini bukan sekadar pekerjaan fisik. Jembatan tersebut menjadi upaya mengembalikan akses yang sempat terputus sekaligus menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur dapat mendorong lahirnya solidaritas di tengah masyarakat.

Semangat gotong royong terlihat dari keterlibatan warga dalam berbagai bentuk, mulai dari tenaga, material, sumbangan dana hingga dukungan peralatan.

Pembangunan secara swadaya tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa kebutuhan terhadap akses publik tidak selalu harus berhenti pada menunggu program pemerintah. Ketika masyarakat bersatu, persoalan yang dihadapi bersama dapat mulai dicarikan jalan keluarnya secara kolektif.

Kini, harapan masyarakat adalah agar akses Orok-Orok–Kudung Are–Tembuku kembali berfungsi dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara aman oleh warga.

Jembatan dibangun dengan swadaya, tetapi maknanya jauh lebih besar: menghubungkan kembali akses, aktivitas masyarakat, dan semangat persatuan warga Desa Mujur.

(Tim Loteng)