Oleh Moh. Ali Andro A Fungsionaris IPEMI NTB
Praya, Lombok Tengah - Sebentar lagi, genderang pesta demokrasi di tingkat desa akan segera bertalu. Pemilihan Kepala Desa secara serentak di sejumlah wilayah Lombok Tengah bukan sekadar rutinitas delapan tahunan, melainkan momentum penting yang akan menentukan arah perjalanan dan masa depan desa kita.
Karena itu, masyarakat perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dukungan, persaingan tim sukses, dan janji-janji politik. Mari kita kembali menggunakan akal sehat dan hati nurani. Sebab, memilih kepala desa bukan hanya soal menentukan siapa yang akan menduduki jabatan, tetapi juga tentang kepada siapa kita mempercayakan pembangunan, kesejahteraan, dan masa depan masyarakat.
Kita harus memahami bahwa maju atau mundurnya sebuah desa sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinannya. Kebijakan yang diambil kepala desa akan berdampak langsung pada pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, pengelolaan anggaran, hingga keharmonisan kehidupan sosial masyarakat. Maka, jangan sampai kita salah memilih hanya karena kedekatan keluarga, hubungan pertemanan, tekanan kelompok, atau iming-iming kepentingan sesaat.
Mari kita ibaratkan desa ini sebagai sebuah pesawat terbang, kepala desa adalah pilotnya, sedangkan seluruh masyarakat adalah penumpangnya.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita berani menaiki pesawat yang dikemudikan seseorang yang tidak memiliki kemampuan, pengalaman, dan pengetahuan yang memadai tentang cara menerbangkannya?
Tentu kita akan berpikir berkali-kali. Kita ingin pilot yang memahami sistem navigasi, mampu membaca situasi, mengantisipasi gangguan, dan mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
Begitu pula dengan kepala desa. Kita membutuhkan sosok yang memahami tata kelola pemerintahan, mampu menyusun perencanaan pembangunan, mengelola anggaran secara bertanggung jawab, serta memiliki keberanian untuk mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat.
Sebab, seorang pemimpin tidak cukup hanya bermodalkan popularitas, kepandaian berbicara, atau banyaknya pendukung. Ia harus memiliki kapasitas, integritas, pengalaman yang relevan, dan visi yang jelas tentang ke mana desa akan dibawa.
Jangan sampai kita menyerahkan kemudi desa kepada seseorang hanya karena ia dekat dengan kita, sementara kita mengabaikan kemampuan dan tanggung jawabnya. Jangan pula kita terpesona oleh janji-janji besar tanpa melihat rekam jejak, pemahaman, serta kesungguhannya dalam mengabdi kepada masyarakat.
Di sinilah kedewasaan kita sebagai pemilih sedang diuji. Pemilih cerdas bukanlah mereka yang sekadar memiliki hak suara, melainkan mereka yang mampu menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang rasional, objektif, dan bertanggung jawab. Jangan mengaku cerdas dalam memilih jika keputusan kita masih mudah diarahkan oleh emosi, fanatisme kelompok, atau kepentingan sesaat.
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan juga merupakan amanah besar yang tidak boleh diberikan secara sembarangan. Seorang pemimpin idealnya memiliki empat sifat utama yang dapat kita jadikan pedoman dalam menilai calon pemimpin.
Pertama, Siddiq, yaitu jujur dalam perkataan dan perbuatan sehingga layak dipercaya. Kedua, Tabligh, yaitu mampu menyampaikan gagasan dengan baik, membangun komunikasi, serta mendengarkan aspirasi masyarakat. Ketiga, Amanah, yaitu bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Keempat, Fathanah, yaitu cerdas, bijaksana, dan memiliki kemampuan menyusun perencanaan, menentukan visi dan misi, serta melaksanakan program secara tepat.
Keempat sifat ini hendaknya tidak berhenti sebagai slogan dalam kampanye. Masyarakat perlu melihat apakah nilai-nilai tersebut benar-benar tercermin dalam sikap, perilaku, kemampuan, dan rekam jejak setiap calon kepala desa.
Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh kita lupakan: Pilkades bukanlah ajang gengsi, melainkan proses menentukan masa depan desa.
Jangan menjadikan Pilkades sebagai panggung untuk membuktikan siapa yang paling kuat, siapa yang paling banyak pendukungnya, atau siapa yang paling berpengaruh. Kemenangan dalam pemilihan bukanlah kemenangan untuk merendahkan pihak lain. Begitu pula kekalahan bukanlah alasan untuk kehilangan harga diri atau memutus hubungan persaudaraan.
Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Kita boleh mendukung calon yang berbeda, memiliki pandangan yang berbeda, dan menyampaikan pendapat masing-masing. Namun, jangan sampai perbedaan tersebut membuat keluarga saling bermusuhan, tetangga tidak lagi bertegur sapa, persahabatan berakhir, bahkan tali silaturahmi terputus.
Jangan jadikan Pilkades sebagai ajang menanam bibit permusuhan. Jangan sampai benih kebencian yang kita tanam hari ini tumbuh menjadi perpecahan yang sulit diperbaiki di kemudian hari. Hindari saling menghina, menyebarkan fitnah, merendahkan pendukung calon lain, ataupun memutus hubungan hanya karena berbeda pilihan.
Ingatlah, kita boleh berbeda dalam menentukan siapa yang layak memimpin desa, tetapi kita tidak boleh kehilangan rasa persaudaraan sebagai sesama warga. Jangan sampai pilihan politik membuat kita lupa bahwa orang yang berbeda pilihan dengan kita tetaplah tetangga, sahabat, kerabat, bahkan saudara yang selama ini hidup berdampingan.
Jabatan kepala desa memiliki batas waktu, tetapi silaturahmi dan persaudaraan jauh lebih berharga daripada persaingan politik sesaat. Setelah Pilkades selesai, kita tetap tinggal di desa yang sama, menggunakan jalan yang sama, beribadah di lingkungan yang sama, dan saling membutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, untuk apa kita saling membenci hanya karena perbedaan pilihan?
Ingatlah, setelah pemilihan kita tetap satu. Kita tetap satu desa, satu lingkungan, dan satu keluarga besar yang memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Jangan biarkan perbedaan pilihan memisahkan orang-orang yang selama ini hidup dalam kebersamaan.
Jangan sampai ketika calon yang kita dukung menang, kita merasa paling hebat dan merendahkan pihak yang kalah. Sebaliknya, jangan pula ketika calon yang kita dukung kalah, kita menyimpan dendam dan menutup pintu persaudaraan. Kemenangan seharusnya disambut dengan kerendahan hati, sedangkan kekalahan harus diterima dengan kedewasaan.
Yang menang jangan menyombongkan diri, yang kalah jangan menyimpan dendam. Yang berbeda pilihan jangan saling membenci, dan yang bersaing jangan sampai kehilangan persaudaraan.
Siapa pun yang terpilih nantinya, ia akan menjadi kepala desa bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi orang-orang yang memilihnya. Karena itu, pemimpin yang baik harus mampu merangkul semua golongan, sementara masyarakat juga perlu memberikan ruang bagi persatuan dan pembangunan bersama.
Masa depan Lombok Tengah dimulai dari desa-desa yang dikelola dengan baik. Desa yang maju membutuhkan pemimpin yang jujur, cerdas, amanah, dan mampu bekerja. Namun, desa yang damai juga membutuhkan masyarakat yang dewasa, tidak mudah terprovokasi, serta tetap menjaga persaudaraan meskipun berbeda pilihan politik.
Pada akhirnya, jangan biarkan pesawat desa kita kehilangan arah hanya karena kita keliru memilih orang di kursi kemudi. Gunakan hak pilih dengan bijak, periksa kemampuan calon, pertimbangkan rekam jejaknya, dan pilihlah sosok yang paling layak mengemban amanah.
Pilih pemimpin dengan akal sehat, bukan sekadar kedekatan. Pilih berdasarkan kemampuan, bukan hanya janji. Dan pertahankan persaudaraan, meskipun pilihan kita tidak sama.
Sebab, tujuan Pilkades bukan untuk melahirkan permusuhan, melainkan menghadirkan kepemimpinan yang lebih baik. Jangan sampai kita mendapatkan seorang kepala desa untuk satu periode, tetapi kehilangan saudara dan sahabat untuk waktu yang jauh lebih lama.
Mari kita jadikan Pilkades sebagai momentum memperkuat demokrasi, bukan memperlebar perpecahan. Berbeda pilihan tidak berarti harus bermusuhan. Berbeda dukungan tidak berarti harus saling menjauh. Dan berbeda pendapat tidak berarti kita kehilangan hak untuk saling menghormati.
Setelah Pilkades selesai, mari kita kembali bergandengan tangan, saling menyapa, menjaga silaturahmi, dan bersama-sama membangun desa. Sebab, pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala desa terpilih, tetapi juga membutuhkan persatuan, kepedulian, dan partisipasi seluruh masyarakat.
Jadilah pemilih yang cerdas dan memiliki arah. Pilih pemimpin demi masa depan desa, bukan demi gengsi sesaat. Karena desa yang hebat bukan hanya desa yang memiliki pemimpin berkualitas, tetapi juga masyarakat yang tetap bersatu setelah perbedaan pilihan.
Pilkades boleh berbeda pilihan, tetapi jangan berbeda dalam menjaga persaudaraan. Calon boleh berbeda, dukungan boleh tidak sama, tetapi setelah pemilihan kita tetap satu. Jangan korbankan silaturahmi demi politik sesaat, sebab jabatan bisa berganti, tetapi persaudaraan harus tetap abadi. (Mkr)
