Kondisi jalan Jambo Aye Utara, sedang diblokir warga tepatnya di Meunasah Panton Labu. (Photo : alman)
ACEH UTARA I Kesabaran warga di kawasan Jalan menuju Jambo Aye Utara, tepatnya di Desa Meunasah Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, akhirnya habis. Setelah berbulan-bulan dikepung debu tanpa penanganan berarti, warga nekat memblokir jalan penghubung antar desa sekaligus jalur strategis Aceh Utara–Aceh Timur, Senin malam, (23/3/2026).
Aksi protes ini dipicu oleh lambannya penanganan proyek peningkatan jalan yang dikerjakan oleh pihak rekanan. Warga menilai, sejak pekerjaan dimulai sebelum bulan Ramadan, kondisi jalan justru dibiarkan terbuka tanpa perawatan, sehingga menimbulkan debu tebal yang terus beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 22.11 WIB, warga menutup sebagian badan jalan menggunakan ranting pohon dan melakukan pembakaran ban bekas. Aksi tersebut bukan tanpa alasan, selain sebagai bentuk protes, juga menjadi tanda peringatan bagi pengendara agar memperlambat laju kendaraan di tengah kondisi jalan yang berkerikil dan dipenuhi debu pekat.
Situasi ini membuat pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor, harus ekstra waspada. Selain licin akibat kerikil lepas, jarak pandang juga kerap terganggu oleh kepulan debu, terlebih pada malam hari.
Sejumlah warga mengungkapkan, sejak awal Ramadan hingga saat ini, hampir tidak pernah dilakukan penyiraman jalan oleh pihak pelaksana proyek. Akibatnya, debu terus mengganggu aktivitas harian masyarakat, bahkan mulai berdampak pada kesehatan warga yang tinggal di sepanjang badan jalan.
“Kami bukan menolak pembangunan. Justru kami sangat mendukung karena ini untuk kemudahan akses. Tapi tolong juga perhatikan kondisi masyarakat di sekitar. Debu ini sudah sangat parah,” ujar salah seorang warga dengan nada kesal.
Keluhan serupa juga disampaikan pengguna jalan yang melintas di jalur tersebut. Mereka berharap pihak kontraktor lebih bertanggung jawab dengan melakukan penyiraman rutin serta mempercepat proses pengerjaan agar tidak berlarut-larut.
Warga menilai, sikap pembiaran ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan proyek. Padahal, jalan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan dua kabupaten, sehingga seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga keselamatan dan kesehatan. Setiap hari kami menghirup debu. Anak-anak, orang tua, semua terdampak,” ungkap warga lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengevaluasi kinerja kontraktor dan memastikan adanya langkah cepat, seperti penyiraman rutin, pengendalian debu, serta percepatan penyelesaian proyek.
Aksi pemblokiran ini menjadi peringatan keras bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Warga pun menegaskan, jika tidak ada tindak lanjut dalam waktu dekat, aksi serupa berpotensi kembali terjadi dengan skala yang lebih besar.
Di sisi lain, masyarakat tetap menyatakan dukungan terhadap pembangunan jalan tersebut, dengan harapan proyek dapat segera rampung dan benar-benar memberi manfaat tanpa harus mengorbankan kualitas hidup warga sekitar. (Alman).
