Barsela24news.com | Lombok Tengah, NTB, 21 Agustus 2026 — Masyarakat Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, kembali menggelar ritual adat Perang Timbung, sebuah tradisi tahunan masyarakat setempat yang dilaksanakan setiap bulan Agustus.
Tradisi tersebut bukan sekadar acara seremonial. Perang Timbung merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Pejanggik dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Jauh sebelum acara berlangsung, masyarakat telah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pelaksanaan ritual. Pada malam sebelum acara inti, warga secara bersama-sama membuat dan membakar Timbung atau lemang, makanan tradisional yang menjadi bagian penting dalam ritual tersebut.
Menurut Inaq Sarah, salah seorang warga, Timbung yang telah dibuat kemudian dibagikan kepada kerabat dan sanak saudara, baik yang berasal dari Desa Pejanggik maupun dari desa-desa di luar Pejanggik.
Tradisi berbagi tersebut menjadi bagian dari kemeriahan sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat.
Dibuka Barzanji dan Begibung
Sebelum memasuki acara inti Perang Timbung, masyarakat terlebih dahulu menggelar pembacaan Barzanji dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengenang dan mendoakan para leluhur.
Setelah itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tradisi Begibung, yakni makan bersama sebagai bagian dari kebersamaan masyarakat.
Barulah setelah seluruh rangkaian tersebut selesai, masyarakat memasuki acara inti, yakni Perang Timbung.
Dalam tradisi yang seharusnya menjadi simbol kebersamaan dan warisan budaya tersebut, masyarakat saling melempar Timbung atau lemang.
Namun, pelaksanaan tahun ini justru menyisakan persoalan serius mengenai aspek keselamatan.
Awak Media Terkena Lemparan Batu
Di tengah berlangsungnya Perang Timbung, seorang awak media dilaporkan terkena lemparan benda keras yang menurut keterangannya berupa batu. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka dan langsung dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan.
Korban mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa dalam situasi acara tersebut terdapat peserta yang melempar menggunakan batu.
“Sama sekali saya tidak pernah tahu kalau acara Perang Timbung ini ternyata ada yang menggunakan batu,” ujarnya.
Insiden tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai sistem pengamanan dalam pelaksanaan ritual adat yang melibatkan banyak orang dan aktivitas saling melempar.
Apakah sudah ada aturan tegas mengenai benda apa yang boleh digunakan dalam Perang Timbung?
Siapa yang bertanggung jawab memastikan tradisi tetap berjalan sesuai nilai budaya sekaligus aman bagi masyarakat dan pengunjung?
Dan yang tidak kalah penting, apakah pengamanan terhadap peserta, masyarakat, maupun awak media sudah dipersiapkan secara memadai?
Jangan Sampai Warisan Budaya Justru Mengancam Keselamatan
Perang Timbung sejatinya merupakan tradisi yang harus dijaga keberlangsungannya.
Statusnya sebagai Warisan Budaya Takbenda semestinya menjadi alasan semakin kuat bagi semua pihak untuk mempertahankan nilai, tata cara, serta keselamatan dalam pelaksanaannya.
Jika Timbung atau lemang merupakan bagian utama dari tradisi tersebut, maka penggunaan benda lain yang berpotensi melukai peserta tentu perlu mendapat perhatian serius dari penyelenggara, tokoh adat, pemerintah desa, maupun pihak keamanan.
Media ini tidak bermaksud mempertentangkan masyarakat dengan tradisi. Justru sebaliknya, keselamatan dan kelestarian budaya harus berjalan beriringan.
Jangan sampai ritual yang diwariskan para leluhur dan menjadi kebanggaan masyarakat Sasak justru tercoreng karena kelalaian dalam aspek keselamatan.
Masyarakat berharap pada pelaksanaan berikutnya, seluruh pihak dapat melakukan evaluasi, memperjelas aturan pelaksanaan, menyiapkan sistem pengamanan, serta memastikan benda yang digunakan dalam ritual benar-benar sesuai dengan ketentuan adat.
Perang Timbung harus tetap hidup sebagai warisan budaya, tetapi juga harus berlangsung aman, tertib, dan bermartabat.
Karena menjaga budaya bukan hanya mempertahankan ritualnya, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dihormati oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Barsela24News.com membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pemerintah desa, tokoh adat, panitia penyelenggara, maupun pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan mengenai tata cara resmi Perang Timbung, penggunaan benda dalam ritual, serta sistem pengamanan selama kegiatan berlangsung.
Laporan: Tim Loteng
