Johor Bahru, Malaysia – Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) melaksanakan visit university ke Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sebagai bagian dari penguatan internasionalisasi pendidikan tinggi, jejaring akademik, dan kolaborasi riset lintas negara. Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa UTS serta disambut oleh jajaran pimpinan dan sivitas akademika UTM.
Dalam kunjungan tersebut, perwakilan Universitas Teknologi Sumbawa, Muammar Khadafie, menyampaikan sambutan resmi yang menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia dan nilai keilmuan dalam membangun keunggulan perguruan tinggi.
Ia mengawali sambutannya dengan pepatah Tiongkok, “Sungai tak perlu dalam jika ada naganya, gunung tak perlu tinggi jika ada dewanya,” yang dimaknainya sebagai simbol bahwa kebesaran universitas tidak ditentukan oleh kemegahan fisik, melainkan oleh kekuatan ilmu pengetahuan, integritas akademik, dan kontribusi terhadap peradaban.
Selain agenda visit university, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan seminar internasional yang menghadirkan Dr. Suparman, S.Pd., M.Pd. BI. sebagai pemateri utama. Dalam seminar tersebut, Dr. Suparman mempresentasikan topik bertajuk “PBC Maritime Innovation: Language Local Innovation for Whale Shark Ecomaritime Based on Faster, Better, Cheaper in Sumbawa Regency.”
Dalam paparannya, Dr. Suparman menekankan pentingnya peran bahasa lokal sebagai instrumen kultural dalam menjaga harmony between the ocean and culture, khususnya dalam pengelolaan ekomaritima hiu paus di Kabupaten Sumbawa. Menurutnya, bahasa lokal tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai, etika lingkungan, dan kesadaran kolektif masyarakat pesisir terhadap keberlanjutan laut.
Konsep PBC (Faster, Better, Cheaper) yang diusung dalam seminar tersebut dijelaskan sebagai pendekatan inovatif dalam pengelolaan sumber daya maritim. Pendekatan faster menekankan efisiensi proses edukasi dan respons kebijakan berbasis komunitas lokal; better menitikberatkan pada kualitas pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal; sementara cheaper mengedepankan pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal tanpa ketergantungan tinggi pada teknologi mahal.
“Bahasa lokal mampu menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional dan inovasi modern dalam menjaga keberlanjutan hiu paus sebagai kekayaan ekomaritima,” ungkap Dr. Suparman.
Pihak Universitas Teknologi Sumbawa menilai seminar internasional ini memperkaya perspektif akademik mahasiswa dan dosen, sekaligus memperkenalkan praktik inovasi berbasis lokal yang relevan dengan isu global seperti konservasi laut dan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan visit university dan seminar internasional ini diharapkan menjadi langkah awal bagi terbangunnya kerja sama berkelanjutan antara Universitas Teknologi Sumbawa dan Universiti Teknologi Malaysia, baik dalam bidang riset kolaboratif, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, maupun pengembangan inovasi maritim berbasis kearifan lokal. (tim)
