Mataram, NTB - Barsela24news | Keluarga Kerja Guru Agama Hindu (KKGAH) Kecamatan Cakranegara dan Sandubaya menggelar lomba keagamaan Hindu berbasis literasi dan inklusi keuangan, Sabtu (28/3/2026). Kegiatan ini berlangsung di kampus IAHN Gde Pudja Mataram sebagai upaya membentuk generasi Hindu yang cerdas, berkarakter, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Rektor Kampus IAHN Gde Pudja Mataram, Prof. Dr. Ir. I Wayan Wirata, A.Ma., S.E., M.Si., M.Pd. Penyelenggara Hindu Kota Mataram, Ketua KKGAH Kota Mataram, Pembina KKGAH Kecamatan cakra sandubaya, Dewanjuri dari unsur Penyuluh Agama Hindu Kota Mataram serta beberapa Dosen IAHN dan para guru agama Hindu, siswa-siswi, hingga sejumlah tokoh pendidikan dan pemerhati budaya Hindu di wilayah setempat.
Beragam perlombaan digelar dalam kegiatan ini, salah satunya lomba busana adat Hindu yang menjadi daya tarik utama. Lomba ini tidak hanya menampilkan keindahan pakaian tradisional, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya dan kesakralan yang erat kaitannya dengan kehidupan umat Hindu, khususnya dalam kegiatan persembahyangan dan upacara keagamaan.
Salah satu perwakilan dewanjuri, Wayan Sri Ningsih, menjelaskan. Bahwa busana adat Hindu memiliki filosofi mendalam yang penting dipahami sejak usia dini. Ia menyebutkan, busana pria terdiri dari udeng (ikat kepala), kemeja putih atau safari, kamen (kain bawahan), serta saput. Sementara itu, busana wanita meliputi kebaya, kamen, serta selendang atau senteng yang mencerminkan keanggunan dan kesopanan.
“Warna putih dan kuning umumnya digunakan dalam kegiatan ibadah karena melambangkan kesucian. Melalui lomba ini, kami ingin anak-anak memahami tata cara berpakaian adat Hindu yang baik, rapi, dan sopan,” ujarnya.
Selain perlombaan, kegiatan ini juga mengusung pendekatan literasi yang menekankan pemahaman peserta terhadap nilai-nilai keagamaan melalui aktivitas membaca, menulis, dan memahami ajaran Hindu secara kontekstual. Peserta tidak hanya dituntut tampil secara visual, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap unsur budaya yang ditampilkan.
Menariknya, konsep literasi tersebut dipadukan dengan inklusi keuangan. Para peserta diperkenalkan pada pentingnya pengelolaan keuangan sejak dini, termasuk nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui integrasi ini, diharapkan lahir generasi muda Hindu yang tidak hanya kuat secara spiritual dan budaya, tetapi juga memiliki kecakapan literasi serta pemahaman ekonomi yang inklusif.
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi budaya, peningkatan literasi, serta pembentukan karakter generasi muda.
Di akhir kegiatan, Wayan Sri Ningsih berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan dikemas lebih meriah di masa mendatang.
“Jika diberikan kesehatan dan kesempatan, kami berharap ke depan dapat menyelenggarakan lomba yang lebih meriah lagi,” tutupnya.
*Laporan: I Made Mega Yuliantara. SH*
