Oleh: Indra W
Sumbawa, NTB | Kabupaten Sumbawa berada di persimpangan penting. Di satu sisi, kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, terutama di sektor kelautan dan perikanan. Di sisi lain, tantangan kesejahteraan masyarakat pesisir, pengangguran, serta ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya teratasi. Sudah saatnya kita berani mengambil lompatan strategis dengan memfokuskan perhatian pada dua aset terbesar yang selama ini berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi yang utuh: Gili Rakit sebagai Zona Percontohan Ekowisata Premium dan Teluk Saleh sebagai Kawasan Minapolitan.
Bukan rahasia lagi bahwa Gili Rakit menyimpan keindahan bawah laut yang mampu bersaing dengan destinasi kelas dunia. Terumbu karangnya yang masih terjaga, kejernihan airnya, serta potensi spot snorkeling dan diving yang eksotis menjadikan pulau kecil ini sebagai "berlian tersembunyi" di timur laut Sumbawa. Namun, selama ini potensi tersebut dikelola secara parsial, tanpa perencanaan matang yang mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Kita tidak ingin Gili Rakit mengalami nasib seperti beberapa destinasi wisata lain yang hancur karena over-tourism dan pengelolaan yang serampangan. Oleh karena itu, gagasan untuk menjadikannya Zona Percontohan Ekowisata Premium adalah sebuah keniscayaan.
Apa makna "ekowisata premium" dalam konteks Gili Rakit? Bukan sekadar wisata mahal, melainkan wisata yang mengedepankan kualitas, kelestarian, dan keterlibatan masyarakat lokal secara penuh. Ini berarti membatasi jumlah pengunjung per hari, melarang plastik sekali pakai, membangun akomodasi ramah lingkungan (eco-glamping atau eco-resort), serta memberdayakan masyarakat setempat sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, dan penjaga kawasan konservasi. Dengan pendekatan ini, nilai ekonomi per kunjungan akan jauh lebih tinggi dibandingkan wisata massal, sementara ekosistem laut tetap terjaga untuk generasi mendatang. Pemerintah daerah harus segera menyusun regulasi khusus, menetapkan zonasi yang tegas, dan menggandeng investor yang benar-benar berkomitmen pada prinsip keberlanjutan.
Namun, ekowisata saja tidak cukup. Sumbawa membutuhkan fondasi ekonomi yang kokoh, dan di sinilah peran Teluk Saleh sebagai Kawasan Minapolitan menjadi sangat strategis. Teluk Saleh bukan sekadar pemandangan indah. Dengan luas perairan yang mencapai puluhan ribu hektar, terlindung dari ombak besar, namun memiliki sirkulasi air yang baik, teluk ini adalah lahan subur untuk pengembangan perikanan budidaya skala rakyat maupun industri. Konsep Minapolitan yang digagas pemerintah pusat sejatinya adalah jawaban untuk mengintegrasikan sektor perikanan, pemasaran, hingga permukiman masyarakat pesisir dalam satu ekosistem ekonomi yang mandiri.
Bayangkan jika Teluk Saleh dikelola sebagai kawasan Minapolitan yang serius. Kita bisa mengembangkan budidaya keramba jaring apung untuk ikan kakap, kerapu, dan rumput laut secara terukur dengan memperhatikan daya dukung lingkungan. Kita bisa membangun sentra pengolahan ikan modern di daratan, sehingga nilai tambah produk perikanan dinikmati di daerah, bukan hanya diekspor dalam bentuk mentah. Kita bisa membangun sistem logistik dan pemasaran yang terintegrasi, memastikan harga ikan tetap stabil dan menguntungkan bagi pembudidaya. Semua ini akan menciptakan lapangan kerja massal bagi masyarakat pesisir terkhusus di Kecamatan tarano.
Keduanya, Gili Rakit dan Teluk Saleh, tidak boleh dikelola secara terpisah. Di sinilah letak keunggulan kompetitif Kabupaten Sumbawa. Gili Rakit dan pulau-pulau kecil di sekitarnya berfungsi sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata yang menarik wisatawan berkantong tebal. Sementara Teluk Saleh menjadi kawasan produksi perikanan yang memasok kebutuhan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Keduanya dihubungkan oleh ekosistem laut yang sama terumbu karang, padang lamun, dan mangrove yang harus dijaga bersama. Ini adalah sinergi sempurna antara konservasi dan produksi, antara pariwisata premium dan ekonomi kerakyatan.
Tentu saja, mewujudkan visi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan komitmen politik yang kuat dari Bupati Sumbawa beserta jajaran, dukungan penuh dari DPRD, serta kolaborasi lintas sektor. Langkah awal yang harus segera dilakukan adalah menyusun Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) yang komprehensif dan mengikat secara hukum. Tanpa zonasi yang jelas, konflik pemanfaatan ruang antara nelayan tradisional, pembudidaya, dan pelaku wisata akan terus berulang. Selanjutnya, diperlukan pembentukan Tim Percepatan Pengembangan Ekonomi Biru yang terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata, DLHK, serta akademisi lokal untuk memastikan program berjalan terkoordinasi.
Tak kalah penting, infrastruktur pendukung harus menjadi perhatian serius. Akses menuju kawasan Teluk Saleh dan Gili Rakit baik melalui darat maupun laut perlu ditingkatkan. Pembangunan dermaga yang memadai, perbaikan jalan poros menuju kawasan pesisir, serta ketersediaan listrik dan air bersih di pulau-pulau kecil adalah prasyarat mutlak. Pemerintah daerah juga harus proaktif mencari pendanaan kreatif, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Dana Alokasi Khusus (DAK), maupun kemitraan dengan sektor swasta dan lembaga donor yang peduli pada pengembangan ekonomi biru.
Kita juga tidak boleh melupakan peran sentral masyarakat. Program pengembangan Gili Rakit dan Teluk Saleh harus dirancang dengan pendekatan partisipatif. Nelayan harus dilibatkan dalam perencanaan, diberdayakan melalui pelatihan, dan diberikan akses permodalan yang mudah. Masyarakat adat dan pemuda setempat harus menjadi garda terdepan dalam pengelolaan kawasan. Jangan sampai program sebesar ini justru melahirkan ketimpangan baru atau meminggirkan masyarakat yang selama ini menjadi penjaga utama kawasan.
Sumbawa sejahtera bukanlah sekadar slogan. Ia adalah tujuan yang harus kita kejar dengan strategi yang tepat, kerja keras, dan keberanian untuk berubah. Gili Rakit dan Teluk Saleh adalah dua gerbang utama menuju gerbang itu. Satu gerbang menawarkan pariwisata berbasis kelestarian yang mampu menarik devisa dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Gerbang lainnya membuka peluang industrialisasi perikanan yang berkelanjutan, mengangkat derajat nelayan dan pembudidaya dari ketidakpastian menuju kesejahteraan yang stabil.
Kini saatnya kita berhenti berbicara tentang potensi yang belum tergarap. Sudah saatnya kita bertindak. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa memiliki momentum untuk menunjukkan kepemimpinan visioner dengan menjadikan kawasan timur laut ini sebagai ikon kebanggaan baru. Dukungan dari seluruh elemen masyarakat tokoh adat, tokoh agama, akademisi, pelaku usaha, dan generasi muda—sangat dibutuhkan untuk mengawal agar program ini berjalan sesuai dengan prinsip keberlanjutan dan keadilan.
Mari kita wujudkan Sumbawa yang sejahtera melalui laut. Karena masa depan kita, sesungguhnya, sedang terhampar biru di Gili Rakit dan Teluk Saleh. (*)
#NtbTime
#admnt
#SumbawaUnggulMajuSejahtera
