Barsela24news.com | Banda Aceh — Polda Aceh kembali menunjukkan skala serius perang terhadap narkotika. Direktorat Reserse Narkoba Polda Aceh memusnahkan barang bukti hasil pengungkapan sejumlah perkara sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Jumlahnya tidak kecil. Sebanyak 49.627 butir ekstasi/MDMA, 569,65 gram sabu, 2.538 cartridge vape yang mengandung etomidate, serta 3.827 mililiter liquid etomidate dimusnahkan setelah memperoleh penetapan status barang sitaan dari kejaksaan.
Pemusnahan tersebut dipimpin Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, mewakili Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan, dalam konferensi pers pada Selasa, 8 September 2026.
Namun, di balik angka fantastis tersebut, terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar.
Dari mana narkotika sebanyak itu berasal? Siapa pemasoknya? Siapa pengendalinya? Bagaimana jaringan tersebut bekerja hingga barang haram bisa beredar di Aceh?
49 RIBU EKSTASI, RIBUAN VAPE: SEBERAPA BESAR JARINGANNYA?
Pemusnahan barang bukti memang merupakan bagian penting dari proses hukum. Tetapi bagi publik, persoalan narkotika tidak berhenti pada barang bukti yang dimusnahkan.
Yang lebih penting adalah membongkar mata rantai peredaran dari hulu hingga hilir.
Sebelumnya, Polda Aceh juga mengungkap kasus peredaran 50 ribu ekstasi serta ribuan cartridge vape etomidate pada Agustus 2026. Dalam pengungkapan tersebut, polisi menangkap seorang oknum kepala desa aktif di Aceh Utara.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa modus peredaran narkotika terus berkembang.
Bukan hanya sabu dan ekstasi, tetapi juga muncul modus menggunakan cartridge vape yang mengandung etomidate.
PUBLIK MENUNGGU HASIL AKHIR, BUKAN HANYA PEMUSNAHAN
Polda Aceh patut mendapat apresiasi atas pengungkapan dan pemusnahan barang bukti tersebut.
Namun perang melawan narkoba tidak boleh berhenti pada seremoni pemusnahan.
Publik berhak mengetahui:
Siapa bandar utama di balik puluhan ribu ekstasi tersebut?
Dari negara atau wilayah mana barang tersebut masuk?
Apakah ada jaringan Aceh–Malaysia atau jaringan internasional lain yang terlibat?
Siapa distributor yang bertugas menyebarkan barang tersebut di Aceh?
Sejauh mana keterlibatan oknum aparat, pejabat, atau pihak lain sedang ditelusuri?
Berapa tersangka yang telah ditangkap dan berapa yang masih menjadi buronan?
Apakah seluruh aset hasil kejahatan telah ditelusuri dan disita?
Sebab, 49.627 ekstasi bukan sekadar angka.
Angka tersebut menggambarkan potensi ancaman yang sangat besar terhadap masyarakat Aceh.
Dan ketika ribuan cartridge vape mengandung etomidate ikut ditemukan, persoalannya semakin serius: peredaran narkotika sedang bergerak mengikuti perubahan modus dan gaya hidup generasi muda.
Karena itu, masyarakat tentu berharap pengungkapan ini tidak berhenti pada “barang bukti dimusnahkan”, tetapi berlanjut menjadi “jaringan dibongkar, bandar ditangkap, aliran uang ditelusuri, dan aset hasil kejahatan dirampas.”
Sebab menghancurkan narkoba adalah langkah terakhir. Menghancurkan jaringan yang memproduksinya, memasukkannya, membiayainya, dan mengedarkannya adalah kemenangan yang sebenarnya.
Redaksi
