SEPTEMBER RAWAN! BALI–NTB–NTT MASUK RADAR GERAKAN TANAH, PVMBG INGATKAN ANCAMAN LONGSOR

Barsela24news.com

Barsela24news.com | Mataram NTB — September 2026 menjadi bulan yang patut diwaspadai masyarakat di kawasan Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Potensi gerakan tanah hingga longsor menjadi perhatian Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Peringatan tersebut menjadi alarm serius, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan, lereng curam, daerah dengan kondisi tanah rentan, maupun wilayah yang memiliki riwayat longsor.

Potensi gerakan tanah dipetakan dengan mempertimbangkan tingkat kerentanan tanah serta prakiraan curah hujan. Artinya, ketika hujan deras mengguyur wilayah yang memiliki kerentanan tinggi, risiko pergerakan tanah dapat meningkat.

Ancaman itu tidak selalu diawali longsor besar. Retakan pada tanah, munculnya mata air baru, air yang tiba-tiba menjadi keruh, pohon atau tiang listrik yang mulai miring, hingga perubahan pada lereng dapat menjadi tanda awal yang harus diwaspadai masyarakat.

Jika tanda-tanda tersebut muncul bersamaan dengan hujan deras atau hujan yang berlangsung cukup lama, masyarakat di sekitar lokasi diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan pemerintah maupun petugas kebencanaan.

Bagi NTB, peringatan ini menjadi penting karena sejumlah kawasan memiliki karakter geografis berupa perbukitan, lereng dan daerah dengan tingkat kerentanan terhadap longsor.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting diperhatikan di kawasan permukiman yang berada di bawah tebing, jalur transportasi yang melintasi lereng, serta kawasan wisata yang berada di wilayah perbukitan.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah longsor akan terjadi, tetapi seberapa siap pemerintah daerah mengantisipasinya.

Apakah titik-titik rawan sudah dipetakan secara detail? Apakah sistem peringatan dini benar-benar berfungsi? Apakah jalur evakuasi tersedia dan dapat digunakan?

Dan yang paling penting, apakah masyarakat di wilayah rawan benar-benar mengetahui apa yang harus dilakukan ketika tanda-tanda gerakan tanah mulai muncul?

Peringatan PVMBG seharusnya tidak berhenti sebagai informasi yang hanya beredar di media. Pemerintah daerah, BPBD, pemerintah desa, hingga masyarakat perlu menerjemahkannya menjadi langkah nyata di lapangan.

Pemeriksaan drainase, pemantauan lereng, pembersihan saluran air, pengawasan titik rawan, pemasangan sistem peringatan dini, serta kesiapan jalur dan tempat evakuasi menjadi bagian penting dari mitigasi.

Sebab, ketika hujan deras turun di kawasan yang sudah rentan, waktu untuk menyelamatkan diri bisa jauh lebih singkat dibandingkan waktu untuk melakukan penanganan setelah bencana terjadi.

September masih berjalan. Karena itu, peringatan PVMBG untuk Bali, NTB dan NTT harus menjadi alarm kewaspadaan

Sebab ketika tanah mulai bergerak, yang dipertaruhkan bukan hanya jalan dan bangunan, tetapi keselamatan manusia.

Red