BARU JADI MENKEU, SUAHASIL PERINTAHKAN “GEMPUR” ROKOK ILEGAL: POTENSI Rp59,86 TRILIUN JADI SOROTAN

Barsela24news.com
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara. Foto: (Ist)

Barsela24news.com | Jakarta — Baru menjabat sebagai Menteri Keuangan, Suahasil Nazara langsung memberikan perhatian terhadap pemberantasan peredaran rokok ilegal. Jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diminta tidak mengendurkan penindakan terhadap berbagai aktivitas ilegal.

“Gempur terus,” menjadi penegasan Suahasil kepada jajaran Bea dan Cukai.

Arahan tersebut menjadi sorotan di tengah besarnya persoalan peredaran rokok ilegal yang berpotensi menggerus penerimaan negara. Angka Rp59,86 triliun mencuat sebagai nilai potensi kehilangan penerimaan negara yang dikaitkan dengan peredaran rokok ilegal.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan rokok ilegal bukan semata-mata pelanggaran distribusi barang kena cukai. Di balik peredarannya terdapat persoalan penerimaan negara, pengawasan jalur distribusi, serta efektivitas penegakan hukum.

Karena itu, instruksi “gempur terus” tidak cukup berhenti pada operasi penyitaan di lapangan. Tantangan utamanya adalah bagaimana Bea dan Cukai mampu menelusuri rantai pasok secara menyeluruh, mulai dari produsen, pemasok, distributor hingga titik penjualan.

Rp59,86 triliun bukan angka kecil. Jika angka tersebut merupakan estimasi potensi kehilangan penerimaan, maka transparansi mengenai metode penghitungan, periode, serta sumber datanya menjadi penting agar publik dapat memahami besarnya persoalan secara tepat.

Di sisi lain, pemberantasan rokok ilegal juga harus menjawab pertanyaan mengenai konsistensi penindakan. Apakah operasi hanya menyasar pengecer dan barang sitaan, atau benar-benar mampu membongkar jaringan yang berada di belakang distribusi?

Suahasil sendiri menegaskan bahwa penindakan terhadap kegiatan ilegal tidak hanya menyangkut rokok, tetapi juga berbagai bentuk aktivitas ilegal lainnya.

Kini perhatian publik tertuju pada langkah konkret Bea dan Cukai setelah instruksi tersebut. Apakah “gempur terus” akan menghasilkan penindakan yang lebih luas dan menyentuh jaringan distribusi, atau kembali berhenti pada razia dan penyitaan di tingkat bawah?

Pertanyaan itu penting karena persoalan rokok ilegal bukan hanya tentang berapa banyak bungkus yang disita, tetapi juga berapa besar potensi penerimaan negara yang berhasil diselamatkan dan seberapa jauh mata rantai peredarannya dapat diputus.

Redaksi