Melihat sejarah Aceh Barat Daya dan posisinya, wilayah ini memiliki peluang menjadi salah satu simpul penting konektivitas ekonomi Barat–Selatan Aceh.
Aceh Barat Daya,- Gagasan ini salah satunya bertumpu pada Teluk Surin di Kecamatan Kuala Batee, yang sejak lama dikaitkan dengan sejarah perdagangan kawasan. Penelitian sejarah dan arkeologi menunjukkan bahwa Kuala Batee atau Kuala Batu pernah memainkan peranan penting dalam perdagangan lada dan rempah pada abad ke-18 dan ke-19 artinya, pembicaraan tentang Teluk Surin bukan sekadar tentang pembangunan pelabuhan baru, melainkan tentang menghubungkan kembali kawasan yang punya sejarah perdagangan dengan sistem ekonomi modern.
Pertanyaan besarnya sekarang, bisakah sejarah itu ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi baru bagi generasi sekarang? Menurut saya, jawabannya harus dicari melalui perencanaan serius.
Teluk Surin harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang terhubung dengan jalan, energi, kawasan industri, serta produksi masyarakat yang punya pasar. Bukan sekadar membangun pelabuhan, tapi menghubungkan produksi lokal ke distribusi dan pasar yang lebih luas dari komoditas ke industrialisasi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat lokal.
Bagi Aceh Barat Daya, peluang ini bisa memperkuat posisi daerah sebagai salah satu simpul distribusi dan perdagangan di kawasan Barat–Selatan, tentunya, ini butuh kerja bersama pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, pemuda, serta dukungan Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat. Efeknya berpotensi tidak berhenti hanya di Abdya, jika dikelola dengan baik dan terhubung dengan koridor ekonomi yang lebih luas hingga ke jaringan perdagangan Sumatera dan jalur internasional.
Bagi generasi muda, ruang dialog seperti inilah yang perlu diisi dengan gagasan ekonomi, industri, teknologi, dan investasi, bukan sekadar nostalgia masa lalu. Seperti kata Yosri Rijalmi, ukuran keberhasilan pembangunan bukan seberapa besar infrastruktur yang dibangun, tetapi seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Penulis: Yos Rijalmi, Manajer Program AMPERA Aceh.
